Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Instagram

www.instagram.com/nai.najiha/

Film Surau dan Silek; Pemersatu Jiwa Para Perindu

by - Mei 05, 2017

Kemarin kebersamaan berbalut kehangatan begitu terasa nyata.
Perihal nonton yang mulanya diduga hanya sekadar wacana akhirnya terealisasikan juga. Modal nekat dengan uang seadanya, berangkatlah kami bersebelas ke CGV Blitz di salah satu mall daerah Jogja. Sebenarnya kami berlimabelas satu ruang, namun karena satu dan lain hal empat teman yang lain tidak bisa ikut bergabung. Sedih? Iya. Tapi bagaimana lagi, kepentingan mereka mungkin lebih penting dibandingkan nonton.
Setiba di mall tersebut, jam baru menunjukkan pukul 13:25, kami menaiki lift dengan rasa pede yang gg banget dan.. inilah yang terjadi. Kami salah naik lift pemirsa, lift yang kami naiki ternyata lift untuk sebuah hotel yang kebetulan satu parkiran dengan mall tersebut. Bisa dibayangin kan gimana malunya? Naik lift berenam (pisah sama yg putra) dan ada dua orang bapak2 di dalamnya. Gitu tiba di lantai satu bukan mall yang didapat tapi malah hotel, malu cuy. Lalu turun balik ke parkiran dan akhirnya nanya sama petugas yang  di sana, biar gg salah masuk lagi dan gg malu untuk yang kedua kalinya. Setelah muter² baru nemu lift untuk ke hotel and finally sekali masuk lgsg bersebelas. Penuh.. penuh dah tuh...
.
Tiba di lantai 3 mall, jam sudah menunjukkan pukul 13:50 sedangkan filmnya baru dimulai pukul 15:20, jadilah kami muter² dan berakhir di arena timezone dengan uang yang limit banget. Ngumpulin uang sana sini dari teman2 dapatlah satu kartu utk main di arena itu. Dan di sanalah kebahagiaan terpancar jelas. Bermain apa saja tanpa ingat umur, istilah masa kini. But why? Bukan cuma anak2 kan yang butuh hiburan? Anak kuliahan juga butuh liburan tentunya. Apalagi tugas kuliah yang akhir2 ini terus mengalir deras tanpa henti . Puas bermain, kami shalat ashar terlebih dahulu kemudian langsung menuju ke cinema karena waktu sudah lewat lima menit dari yang telah ditentukan.
Surau dan Silek. Yap! Inilah film yang kami tonton kemarin. Salah satu film yang sarat budaya namun diracik dengan sangat ciamik sehingga tidak membosankan untuk ditonton.
Film ini mengangkat kebudayaan Minangkabau yang tidak jauh dari surau (mushalla) dan sileknya (silat). Bagi masyarakat Minang, silat bukan untuk adu otot ataupun membanggakan diri. Silat adalah budaya yang harus dilestarikan. Silat adalah proses pengendalian diri.
.
"Lahir silek mencari teman. Bathin silek mencari Tuhan"
.
Kutipan itu begitu terkenang hingga sekarang. Silat tidak akan sempurna bila kewajiban sebagai hamba dilupakan. Silat hanya sia-sia jika dipelajari untuk dibanggakan.
Shalat, shalawat, silat (silek)
Tiga komponen ini melekat di jiwa masyarakat Minang, selain merantau tentunya. Banyak pelajaran yang dapat kami ambil dari film ini. Pesannya tersampaikan dengan lugas tanpa paksaan.
Para pemerannya pun berlakon dengan baik. Kak Gilang misalnya, dia memerankan sebagai urang awak (sebutan untuk orang Minang) yang tentunya harus cakap berbahasa Minang. And he did it well. Logatnya dapat.
Actually, I recommended you to watch this movie. Nggak bakal nyesel deh. Pesan moralnya itu loh, ngena banget. Yang belum nonton kuy nonton. Jarang-jarang loh ada film Indonesia yang mengangkat sisi kebudayaan lokal. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
.
Intinya belum bisa mup on dari hari kemarin. . .

You May Also Like

0 komentar