•••Sepucuk Rindu Yang Berserakan•••
Bunda, jutaan aksara tak akan sanggup tuk menuliskan betapa aku bangga memilikimu.
Betapa aku menyayangimu.
Betapa aku mencintaimu. Sungguh.
Kasihmu paling salju
Cintamu paling purnama
Binar matamu adalah permata
Dan bersamamu adalah Surga.
Bunda, ucapan terima kasih tidaklah cukup untuk menggambarkan seberapa besar pengorbananmu.
Di sepertiga malam kau terjaga, memeriksa kamar kami. Memastikan sudahkah kami terlelap dengan baik atau tidak. Menyelimuti agar dingin malam tidak mengusik mimpi kami. Setelahnya, buliran wudhu membasahi wajah sendumu. Bersujud di hadapan Sang Maha Cinta, melangitkan harap akan masa depan kami (anak2mu) yang lebih baik.
Bunda, masih teringat dalam bayangku. Ketika rintihan sakit lirih dari bibirku, kau hadir menyuguhkan ketenangan. Membisikkan bait-bait cinta agar aku tetap kuat dan tidak berputus asa. Mengeja semangat yang mulai patah agar kembali kudekap. Di rumah sakit dalam keheningan malam, kau rela terjaga demi memastikan aku baik-baik saja. Demi memastikan rintihan sakit tidak lagi terdengar.
Bunda, aku bukan mereka yang mampu membawa ibunya ke luar negeri, melintasi samudra demi melukis tawa di bibir ibunya. Aku bukan mereka, Bunda. Aku hanya gadis kecil yang selalu bermimpi besar. Bermimpi mampu menghadirkanmu kelak ke Baitullah. Aku gadis kecil yang hanya mampu menitip namamu kepada malaikat agar dibawa ke Arsy. Aku hanya sosok gadis kecil yang bangga terlahir dari rahimmu. Aku anakmu. Aku putrimu, yang selalu mencintaimu hingga kapanpun. Jika mereka memandangmu sebelah mata, aku yang akan menjadi bentengmu. Biar aku saja yang dikucilkan jangan dirimu. Karena Bunda tidak berhak atas semua itu. Bunda hanya berhak bahagia. Menikmati usia senja dengan tawa yang selalu kudamba.
Bunda, uhibbuki fillah. . .
Terima kasih yang tak terhingga kuhaturkan kepadamu. Sungguh, aku mencintaimu.
Dari Putri kecilmu yang kini nun jauh di perantauan.
Bunda, Kakak rindu. . .
0 komentar