Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Instagram

www.instagram.com/nai.najiha/

Apa Itu Living Hadis?

by - Februari 14, 2019



Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan dengan beragam suku, bangsa dan agama. Dimulai dengan pulau Sabang di ujung Barat dan diakhiri dengan pulau Papua di ujung Timur. Sepanjang bentangan kepulauan tersebut, banyak keberagaman yang dapat ditemukan. Salah satunya adalah keberaneka ragaman tradisi yang berkembang di dalam kehidupan sosial masyarakat. Sebagian besar tradisi yang berkembang di kehidupan sosial masyarakat Indonesia memiliki interaksi dengan agama. Salah satunya ialah agama Islam.

Sebagaimana diketahui bahwa agama Islam memiliki dua sumber ajaran utama, yaitu al-Qur’an dan Hadis. Di dalam kajian akademik, istilah yang digunakan untuk interaksi atau dialog yang dilakukan antara al-Qur’an dan masyarakat adalah Living al-Qur’an. Sedangkan dialog yang terjadi di antara masyarakat dan hadis disebut dengan Istilah Living Hadis. Di dalam tulisan ini, penulis hanya akan memfokuskan titik bahasan pada kajian Living Hadis saja, karena sebagaimana yang dikatakan oleh Saifuddin Zuhri dan Subkhani Kusuma di dalam bukunya Living Hadis: Praktik, Resepsi, Teks, dan Transmisi bahwa kajian ini terbilang masih terbuka untuk dieliti lebih lanjut.

Sederhananya, jika membicarakan kajian Living Hadis maka yang menjadi keywordnya adalah kata hadis dan masyarakat. Hadis dan masyarakat saling berdialog sehingga kemudian melahirkan sebuah praktik atau di kalangan masyarakat lebih dikenal dengan sebutan tradisi/ritual. Jadi dapat disimpulkan bahwa kajian Living Hadis merupakan sebuah praktik hadis yang diterapkan di dalam kehidupan sosial masyarakat atau singkatnya ialah tradisi masyarakat yang bersumber dari hadis. Adapun objek kajian Living Hadis berangkat dari kondisi yang terjadi di dalam lingkup suatu masyarakat. Berbeda dengan objek kajian Ilmu Ma’anil Hadis, yang mana fokus kajiannya adalah pada teks hadis. Lebih tepatnya adalah pada matan/isi dari suatu hadis. Di dalam Living Hadis kajiannya bersifat no judgemental (tidak menghakimi/menyudutkan). Sehingga semuanya murni informasi dari informan. Tidak ditambah atau dikurang dan juga tidak menyalahkan atau membenarkan informasi tersebut. Apa yang dikatakan oleh informan itulah informasi yang harus dilampirkan walaupun informasi itu sangat minim sekalipun.

Walaupun kajian ini disebut dengan Living Hadis, akan tetapi kualitas hadis tidak menjadi problem utama yang dikaji. Apapun kualitas hadis itu selama bukan hadis maudhu’ maka tidak masalah. Dan di dalam kajian ini juga tidak terdapat istilah tarjih. Fokus kajian ini hanyalah pada tradisi yang yang terdapat di dalam sebuah kelompok masyarakat. Adapun kesukaran yang dialami dalam menggali infomasi dari informan adalah terkadang seorang informan tersebut tahu bahwa tradisi yang terdapat di lingkungannya berasal dari hadis Nabi saw. akan tetapi ketika diminta untuk menyebutkan hadisnya mereka acap kali mengalami kesulitan, baik itu karena tidak hafal atau dan lain sebagainya. Sebagaimana maklum bahwa informan tidak selalu berasal dari golongan orang-orang akademisi. Karena di dalam kehidupan sosial masyarakat, sebuah tradisi tidak hanya dijalani oleh para akademisi saja. Orang yang memiliki relasi paling dekat dengan tradisi, mayoritasnya adalah orang-orang awam yang hanya mengetahui tentang produk jadi (re: fiqih) bukan sumber utamanya, yaitu berupa al-Qur’an dan Hadis.

Sama halnya dengan kajian Sosiologi Agama dan Antropologi Agama, dalam mengkaji Living Hadis juga dibutuhkan beberapa metode dan pendekatan. Saifuddin dan Subkhani kemudian menawarkan beberapa metode dan pendekatan, yaitu fenomenologi, naratif studies, dan etnografi. Sedangkan untuk analisanya dilakukan dengan sosiologi pengetahuan.

Di Indonesia, instansi pendidikan yang getol mengajarkan studi Living Hadis salah satunya adalah Unversitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bahkan salah seorang dosen dari Program Studi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Saifuddin Zuhri menggagas nama jurnal Ilmu Hadis dengan Living Hadis. Pada tahun 2007 lalu, para dosen dari Prodi Tafsir Hadis (sekarang dipisah menjadi Prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir dan Prodi Ilmu Hadis) juga menulis sebuah buku tentang living al-Qur’an dan Hadis pertama di Indonesia dengan judul Metodologi Penelitian Living Qur’an dan Hadis. Buku ini pertama kali ditulis guna menjawab persoalan-persoalan sosial keagamaan di kehidupan sosial masyarakat pada masa itu sampai saat ini.

Dari penjabaran ringkas di atas dapat disimpulkan bahwa kajian Living Hadis adalah sebuah kajian yang hanya menyentuh pada ranah tradisi yang berangkat dari sebuah hadis Nabi saw.. mengenai kualitas hadisnya selama bukan hadis maudhu’ maka tidak mengapa.

Demikian sekilas tentang kajian Living Hadis. Semoga pembahasan singkat ini mampu memberikan sedikit pencerahan kepada pembaca sekalian tentang kajian Living Hadis yang tergolong masih baru di telinga kita semua.

Wallahu a’lam…

Source:
Dr. Saifuddin Zuhri, M. A. pada mata kuliah Living Hadis Program Studi Ilmu Hadis, hari Jum’at, 8 Februari 2019.

Dr. Saifuddin Zuhri, M. A. dan Subkhani Kusuma Dewi, M. A., M. Hum., Living Hadis: Praktik, Resepsi, Teks, dan Transmisi, (Yogyakarta: Q-Media, 2018).

You May Also Like

1 komentar