Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Instagram

www.instagram.com/nai.najiha/

Perkembangan Kajian Living Hadis

by - Maret 13, 2019


Sebagaimana telah disinggung pada tulisan sebelumnya, bahwasanya hadis memiliki beragam fungsi dan salah satunya adalah sebagai penjelas dari pada al-Qur’an. Di Indonesia, hadis dipahami sebagai sumber hukum agama Islam yang melahirkan produk berupa fiqih. Dalam hal ini, para kyai/ ustadz memiliki peran penting. Jama’ah/ murid menjadikan kyai/ ustadz sebagai role model (panutan) dalam segi karakter keshalehan yang dikehendaki terhadap kenyataan sosial yang tersaji. Dalam penyampaian hadis yang dilakukan oleh kyai/ ustadz terdapat dimensi di mana mereka menjabarkan pemahaman akan hadis yang kemudian menghasilkan sebuah petunjuk praktis sehari- hari dan sosok kyai/ ustadz tersebut ikut mengambil peran sebagai seorang panutan di dalamnya. Hal ini dikarenakan aspek lebarnya jarak yang terbentang antara masa di mana hadis datang dengan kondisi geografis saat itu sampai ke pada masa kodifikasinya dan bahkan sampai ke pada masa sekarang dengan kondisi geografis yang tentunya berbeda pula.

Nyatanya, suatu teks (nash) hadis tidak pernah benar- benar dapat berdiri sendiri. Kedatangannya di tengah- tengah masyarakat senantiasa dipengaruhi oleh posisi para kyai/ ulama dalam menanggapi keadaan nyata serta bentuk praktik dari resepsi sebuah hadis. Melihat pada realitas sekarang di mana hadis telah diaplikasikan dalam kehidupan sosial masyarakat muslim, hadis ini kemudian dianggap sebagai praktik keagamaan dari kehidupan masyarakat tersebut. Pada titik inilah kemudian kajian Living Hadis mengambil peran. Zuhri memaparkan bahwa kajian Living Hadis menempatkan focus pada fenomena praktik, tradisi, ritual, atau tingkah laku yang tumbuh di masyarakat dan berlandaskan pada hadis Nabi saw..

Seiring berjalannya waktu, kajian Living Hadis yang tergolong masih sangat baru ini mulai mengalami perkembangan. Zuhri menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2013 sampai tahun 2017, terdapat 62 karya skripsi yang berkenaan dengan lingkup Living Hadis di Univeristas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Delapan skripsi di antaranya yang ditemukan menggunakan Living Hadis sebagai metode ataupun teori. Dari total 8 skripsi tersebut, empat karya skripsi mengambil objek kajian berupa ritual dan empat karya lainnya yang dijadikan objek kajiannya adalah praktik sehari- hari masyarakat muslim. Dari penjabaran di atas dapat dilihat bahwasanya konsep Living Hadis mengalami perkembangan. Skripsi yang ditulis pada rentang tahun 2013 - 2014 menyebutkan Living Hadis sebagai sebuah metode, yaitu lebih mengfokuskan pada proses rekognisi model/ bentuknya untuk menyibak ritual dan praktik sebagai sebuah fakta sosial. Selanjutnya baru pada rentang tahun 2016 – 2017 ditemukan beberapa skripsi yang menyebutkan Living Hadis sebagai sebuah teori, yaitu ditandai dengan pemakaian pendekatan yang mulai lebih khusus.

Dari penjabaran singkat di atas dapat disimpulkan bahwa kajian Living Hadis mulanya berupa sebuah metode. Namun seiring berjalannya waktu, Living Hadis terus mengalami perkembangan hingga kemudian Living Hadis tumbuh menjadi sebagai sebuah teori sampai saat ini.

Sekian tulisan hari ini, untuk kelanjutannya akan kembali diupdate minggu depan dengan pembahasan lanjutan mengenai kajian Living Hadis ini. Semoga tulisan kali ini juga bermanfaat bagi pembaca. Jika ada yang masih membingungkan bisa langsung ditanyakan di kolom komentar, ya... Terima Kasih ^^


Source:
Dr. Saifuddin Zuhri, M. A. dan Subkhani Kusuma Dewi, M. A., M. Hum., Living Hadis: Praktik, Resepsi, Teks, dan Transmisi, (Yogyakarta: Q-Media, 2018).

You May Also Like

0 komentar