Antara Aku, Secangkir Kopi dan Sepiring Mie Aceh
Pagi menyapa
Bersua tanpa mengiba
Melukis tawa jenaka
Di bibir setiap jiwa
Pagiku, bahagia.
Di beranda rumah sosoknya tiba
Melontarkan seulas senyuman
Tanpa lambaian tangan.
Ah! Rasanya hampa.
Di sini, di beranda rumah,
Aku menanti lambaiannya
Pula tegur sapa
Yang terucap dari kedua bibir indahnya.
Namun, itu hanya angan semata
Di pagi cerah yang tak lagi ceria,
Bagiku.
Semuanya menjadi pilu.
Secangkir kopi tersuguh nikmat di depan mata
Menemani penantianku yang tak berujung temu
Sepiring mie Aceh menggugah selera di atas meja
Menanti hadirmu yang hanya angan semu.
Mungkin hanya mereka yang setia dalam menemani hari
Bukan dia sosok yang dahulu kunanti
Ah! Memang.
Secangkir kopi dan sepiring mie Aceh lebih terkenang
dibanding sosoknya yang hanya berupa bayang.
Yogyakarta, 17 Maret 2017
Nai.Najiha
0 komentar