Episode tentangku yang tak pernah kau tahu, Cinta (6)
Tidak ada puisi hari ini
Cukup sajak-sajak prosa yang menemani.
Hari ini, aku datang dengan sebuah episode baru
Dari masa lalu.
Sebuah episode tentang aku.
Bukan dia atau kamu.
Biarkan aku mengisahkan perihal diri
Bukan lagi insan yang menempati hati.
Episode ini kutuliskan dari hati,
Agar pula sampai ke hati.
Cinta. . .
Untaian aksara ini akan menjadi saksi
Tentang aku yang rapuh oleh tatapan sinis.
Pula tentang aku yang jatuh oleh cibiran sadis.
Berulang kali aku coba bangkit,
Berulangkali pula tatapan dan cibiran itu,
Kembali membuatku meringis.
Aku tidak menangis, Cinta. . .
Sungguh, tidak!
Hati ini membeku, membatu dan terbungkam bisu.
Telaga air mata mengering tanpa memandang musim.
Dan aku bersyukur akan itu.
Setidaknya, aku tidak akan tampak lemah di pandang mata.
Cinta. . .
Hari ini hujan mengguyur kota.
Rinainya menari menciptakan melodi rasa.
Dan aku, berteduh di bawah langit senja
Tanpa peduli tetesan-tetesan yang membasahi raga pula jiwa.
Aku ingin pamit sejenak
Dari keramaian yang memandangku hina
Aku ingin pamit sejenak
Dari segala cibir yang membuatku pesimis.
Jujur. . .
Aku lelah Cinta.
Kini, kau boleh menganggapku lemah
Tapi satu pintaku, jangan pernah mengumbarnya di hadapan siapapun.
Cukup kau yang tahu.
Serta Dia Yang Maha Tahu.
Jangan lagi pandang sinis itu terlontar
Cukup mereka, Cinta!
Cukup mereka yang melempar tatap itu padaku.
Aku sudah tak lagi mampu
Memikul segala pandang sinis dan cibiran sadis.
Aku terlalu lelah, Cinta.
Aku rapuh, andai kau tahu.
Aku tak sekuat yang kau lihat.
Aku jatuh berkali-kali
Bangkit berkali-kali
Namun, segala pandang dan cibir itu acap kali kembali.
Sudahlah Cinta.
Jangan kau pikir terlalu dalam.
Biar aku saja yang memikirkannya.
Malam ini, aku hanya ingin berbagi padamu.
Pula menunjukkan padamu, bahwa kau sosok yang beruntung.
Tidak seperti aku yang terluntang-lantung.
Aku rapuh, Cinta. . .
Yogyakarta, 14 Maret 2017
Nai.Najiha
0 komentar