Aku kagum
Pada dia yang mampu menebar senyum
Walau lara bersemayam di qalbu
Ia tidak pernah ragu.
Aku kagum
Pada dia yang mencoba bangkit
Tidak peduli sakit yang menyelekit
Tidak pula berjengit
Aku kagum
Pada tuturnya yang syahdu
Membasuh luka yang tertusuk sembilu
Menyamarkan sesak yang membeku.
Aku kagum
Pada tatapnya yang sendu
Menggelitik rindu
Yang kupendam sedari dulu.
Aku kagum,
Pada dia yang kupanggil ibu.
.
.
.
Yogyakarta, 06 Mei 2017
Di ruang training ICT dalam kebisingan keyboard yang bergulat dengan jemari.
.
Tiba di lantai 3 mall, jam sudah menunjukkan pukul 13:50 sedangkan filmnya baru dimulai pukul 15:20, jadilah kami muter² dan berakhir di arena timezone dengan uang yang limit banget. Ngumpulin uang sana sini dari teman2 dapatlah satu kartu utk main di arena itu. Dan di sanalah kebahagiaan terpancar jelas. Bermain apa saja tanpa ingat umur, istilah masa kini. But why? Bukan cuma anak2 kan yang butuh hiburan? Anak kuliahan juga butuh liburan tentunya. Apalagi tugas kuliah yang akhir2 ini terus mengalir deras tanpa henti . Puas bermain, kami shalat ashar terlebih dahulu kemudian langsung menuju ke cinema karena waktu sudah lewat lima menit dari yang telah ditentukan.
.
"Lahir silek mencari teman. Bathin silek mencari Tuhan"
.
Kutipan itu begitu terkenang hingga sekarang. Silat tidak akan sempurna bila kewajiban sebagai hamba dilupakan. Silat hanya sia-sia jika dipelajari untuk dibanggakan.
.
Intinya belum bisa mup on dari hari kemarin. . .
Air Terjun Randu Sari
Assalamu'alaikum ukhty shalihahku. . .
Baikkah kabarmu?
Masihkah kamu bertahan pada hijrahmu?
Atau mulai mundur perlahan karena jemu?
Ukhtyku. . .
Kamu tidak sendiri.
Ada Allah yang senantiasa menemani.
Setiap langkahmu dalam menggapai ridha Ilahi
Tidak akan berakhir dalam kegundahan hati.
Ukhtyku. . .
Kamu tidak sendiri.
Ada aku yang akan membersamai.
Mengenggap erat jemarimu
Melangkah pasti menjemput cintaNya yang hakiki.
Ukhtyku. . .
Suratan aksara ini mungkin tak mampu menopangmu,
Tapi aku, akan selalu 'mencoba' ada untukmu.
Merengkuhmu dalam dekap ukhuwahku.
Ukhtyku. . .
Bila telah kau temukan permata di depan sana,
Tolehkan kembali pandangmu ke belakang.
Lihatlah setiap langkah patahmu dalam menggapainya.
Bukan untuk menyesalinya. Tapi untuk cerminanmu ke depan.
Ukhtyku. . .
Aku tahu ini sulit bagimu.
Setiap kau coba melangkah namun kembali terjatuh.
Setiap kali kau coba bangkit ada uji yang menghimpit.
Tapi percayalah ukhty,
Kau tidak sendiri.
Kau tidak sendiri ukhty.
Melangkahlah dengan hati.
Di penghujung sana, akan kau dapati
Dia yang menunggu dalam senyum tiada henti.
Dan berbisik lirih
"Kamu berhasil, wahai hambaKu"
Bunda, jutaan aksara tak akan sanggup tuk menuliskan betapa aku bangga memilikimu.
Betapa aku menyayangimu.
Betapa aku mencintaimu. Sungguh.
Kasihmu paling salju
Cintamu paling purnama
Binar matamu adalah permata
Dan bersamamu adalah Surga.
Bunda, ucapan terima kasih tidaklah cukup untuk menggambarkan seberapa besar pengorbananmu.
Di sepertiga malam kau terjaga, memeriksa kamar kami. Memastikan sudahkah kami terlelap dengan baik atau tidak. Menyelimuti agar dingin malam tidak mengusik mimpi kami. Setelahnya, buliran wudhu membasahi wajah sendumu. Bersujud di hadapan Sang Maha Cinta, melangitkan harap akan masa depan kami (anak2mu) yang lebih baik.
Bunda, masih teringat dalam bayangku. Ketika rintihan sakit lirih dari bibirku, kau hadir menyuguhkan ketenangan. Membisikkan bait-bait cinta agar aku tetap kuat dan tidak berputus asa. Mengeja semangat yang mulai patah agar kembali kudekap. Di rumah sakit dalam keheningan malam, kau rela terjaga demi memastikan aku baik-baik saja. Demi memastikan rintihan sakit tidak lagi terdengar.
Bunda, aku bukan mereka yang mampu membawa ibunya ke luar negeri, melintasi samudra demi melukis tawa di bibir ibunya. Aku bukan mereka, Bunda. Aku hanya gadis kecil yang selalu bermimpi besar. Bermimpi mampu menghadirkanmu kelak ke Baitullah. Aku gadis kecil yang hanya mampu menitip namamu kepada malaikat agar dibawa ke Arsy. Aku hanya sosok gadis kecil yang bangga terlahir dari rahimmu. Aku anakmu. Aku putrimu, yang selalu mencintaimu hingga kapanpun. Jika mereka memandangmu sebelah mata, aku yang akan menjadi bentengmu. Biar aku saja yang dikucilkan jangan dirimu. Karena Bunda tidak berhak atas semua itu. Bunda hanya berhak bahagia. Menikmati usia senja dengan tawa yang selalu kudamba.
Bunda, uhibbuki fillah. . .
Terima kasih yang tak terhingga kuhaturkan kepadamu. Sungguh, aku mencintaimu.
Dari Putri kecilmu yang kini nun jauh di perantauan.
Bunda, Kakak rindu. . .
Jangan ganggu!
Jangan buat aku meragu!
Sudah cukup dahulu.
Aku sudah terlalu puas tergugu.
Kini,
Biarkan kaki ini melangkah
Tanpa harus merasa serba salah
Kan kuciptakan sajak-sajak pasrah
Tentang harap yang dulu kau jamah.
Mimpiku angkasa
Harapku semesta
Imajiku lautan
Dan aku, butiran.
Butiran gemintang yang mencintai angkasa.
Butiran bebatuan yang mengagumi semesta.
Butiran pasir yang mengharap lautan.
Aku terjebak dalam intuisi puisi
Terhenyak dalam bait-bait mimpi.
Aku. Sang Pemimpi.
Yogyakarta, 21 Maret 2017
Nai.Najiha
Aku baru.
Masih tergugu
mengeja bait-bait bisu
keliru jika kau menganggapku mampu.
keliru! Sangat keliru!
Karena nyatanya
aku masih di sini, mengeja dan menata
tanpa sanggup menguntai.
namun,
hadirmu dengan seulas senyuman sendu,
menggugurkan bait-bait itu.
kau hadir dengan sebuah harap.
harap yang dahulu pula kumiliki.
Dan kini semuanya berubah rancu.
"Ajarkan aku merangkai kata bersamamu"
ujarmu di suatu waktu
ketika langit senja membias semu,
secercah jingga datang berpadu.
Aku terpaku.
mencerna setiap abjad yang mengalir dari kedua bibir indahmu.
"haruskah aku?"
kau mengangguk tanpa ragu.
tapi kenapa aku?
batinku berperang pilu
"Aku masih amatir" ujarku.
berharap kau meragu.
tapi kau menggeleng lirih.
kau yakinkan aku
walau kutahu aku benar-benar belum mampu.
"kita belajar bersama"
aku terhenyak. terjebak.
"kita belajar bersama, Kamu dan aku!"
lagi-lagi kau meyakinkan
Dan kini aku yang meragu. aku menunduk. aku malu.
"aku belum mampu"
kembali aku bertutur.
kau tersenyum.
kemudian membawaku
ke lembaran-lembaran yang tergeletak bisu
"kau mampu!"
tersentak.
"aku kembali menulis karena melihatmu yang bergulat dengan aksara. Dan aku rindu menjadi sepertimu. ajarkan aku. temani aku dalam merangkai aksara rindu"
mengangguk. merangkulmu. melalui raga pula aksara.
Yogyakarta, 20 Maret 2017
Nai.Najiha
-latepost
Setiap kita memiliki potensi masing-masing yang sangat besar nilainya. Hanya saja kita terlalu terlambat atau bahkan tidak menyadarinya. Ketika dihadapkan pada sebuah kesempatan, keyakinanlah yang patut dihadirkan tuk bisa menjalankan kesempatan itu dengan sempurna.
Ingatlah wahai sahabat.. Untuk menggapai setiap mimpi hanya butuh tekad yang kuat dan niat yang Cermat. Tidak ada yang tidak bisa.. hanya saja 'belum' bisa.. Jadi jangan pernah menyerah.. walau yang lain terus saja menjatuhkan.. karena kita adalah juara bagi diri kita masing2..
"Man Jadda Wa Jada.."
📝📝📝
"Pergi Mengukir Prestasi, Pulang Membangun Negeri"
Kalimat di atas merupakan tema dari seminar yang saya ikuti tadi pagi. Tema yang begitu memikat, menarik minat masyarakat mendaftarkan diri untuk dapat mengikuti seminar tersebut. Itu semua terbukti, dilihat dari penuhnya Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tempat diselenggarakannya acara. Acara yang diadakan oleh CSSMoRA, sebuah komunitas yang pula merangkap sebagai organisasi santri-santri yang mendapatkan beasiswa dari Kemenag kurang lebih berjalan selama 4 jam lamanya yang diselingi oleh penampilan sulap dari salah satu mahasiswa UIN.
Seminar tersebut dibuka oleh keynote speaker, Bpk. I Made Andi Arsana dengan kisah inspiratifnya yang sangat sayang untuk dilewatkan. Kata-kata beliau yang hingga kini masih terngiang jelas di benak saya adalah "Cara terbaik untuk memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya." Tepat setelah kalimat itu terlontar, keoptimisan saya meningkat seketika dan detik itu pula saya bertekad untuk keluar dari zona aman untuk menggapai segala mimpi-mimpi yang telah saya terbangkan di angkasa bebas.
Selain beliau, ada pula narasumber lainnya yang mengisi seminar itu. Mereka adalah pemuda-pemudi inspiratif dengan segala pengalamannya. Ada mas @puguhdwikuncoro (Founder Indonesian Youth Dream, etc) @_ibrahimmalik_ (co-founder CLI, etc) @febriantihidayah (peraih beasiswa LPDP, etc) dan Pak Ghaffar (peraih beasiswa 5000 doktor). Kenapa "etc"? Karena banyak prestasi2 lainnya yang mereka miliki selain yang saya sebutkan di atas.
Dari setiap narasumber ada kata-kata inspiratif yang begitu melekat dan memikat. Mas Puguh misalnya, kata-kata yang begitu melekat hingga sekarang di pikiran saya adalah "Mimpi itu belum besar kalau belum ditertawakan oleh orang lain." Ah! Rasanya begitu bahagia mendengar kalimat ini. Kesedihan yang dahulu sempat menghantui kini perlahan memudar.
Selain itu ada pula kalimat inspiratif dari mas Ibrahim dengan 10 IN 365 - nya. (10 countries in 365 days)
" Setiap orang punya porsi dan waktunya masing-masing untuk melangkah sukses ke depan. Kita tidak sedang berkompetisi dengan orang lain tapi kita berkompetisi dengan diri sendiri. Karena musuh yang sebenarnya adalah diri kita sendiri!" Begitu ujarnya dengan energi positif yang mengalir. Mas Ibrahim meyakinkan setiap peserta seminar bahwa setiap orang pasti akan sukses, namun ada timingnya masing-masing.
Seminar ini benar-benar membuka mindset baru bagi saya. Para narasumber yang hebat dengan segala prestasinya namun tetap down to earth mampu mengalirkan nilai-nilai serta semangat positif untuk terus bangkit dan berjalan ke depan. Informasi mengenai beasiswa ke luar negeri pun dipaparkan dengan lugas memudahkan para scholarship hunter memahami setiap pembahasan. Seminar Nasional tersebut kemudian ditutup dengan pembagian doorprize bagi peserta yang beruntung.
Terima kasih kepada para narasumber atas kisah inspiratif, energi positif serta ilmu yang bermanfaat In Sya Allah. Terima kasih pula kepada CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga yang telah mengadakan acara ini, semoga masih ada seminar Nasional lainnya untuk ke depan nanti yang pastinya tidak kalah inspiratifnya...🙏🙏
Salam loyalitas tanpa batas 👊
Yogyakarta, 19 Maret 2017
Nai.Najiha
-late post 😂
✋✋✋
Selamat tinggal kamu
Yang menjadi bagian dari episode-episode senduku.
Kini, izinkan aku
Membuka lembaran baru
Tanpa bayang-bayangmu.
Biarkan aku
Memilih jalan hidupku
Tanpa harus melayangkan pikir tentangmu.
Biarkan aku pergi
Dan jangan pernah memintaku kembali.
Karena sungguh, itu sulit untuk kulakukan.
Selamat tinggal kamu,
Sosok yang terabadi dalam bingkai aksaraku.
Yogyakarta, 15 Maret 2017
Nai.Najiha
Tidak ada episode baru hari ini.
Apalagi puisi yang kau minati.
Ah! Aku terlalu percaya diri.
Padahal puisiku semuanya basi.
Namun, ada hal baru yang perlu kau ketahui.
Tentang hati yang kini mulai menata diri
Dengan perlahan tapi pasti.
Ia tidak sendiri, ada jiwa yang senantiasa menemani.
Pagi ini,
Aku menyapa setiap hati
Dengan wajah yang kubuat berseri-seri
Walau akhirnya hanya keacuhan yang kembali kudapati.
Aku bingung.
Pikirku linglung.
Ragaku limbung.
Kesalahan apa yang telah kuperbuat?
Kenapa seolah-olah menatapku sinis menjadi candu bagi mereka?
Aku sungguh tidak paham dengan situasi ini.
Jika aku berbuat salah, katakan!
Jangan hanya bungkam lalu menebar kebencian!
Sudah kukatakan,
Hatiku sedang menata diri
Dan aku tidak akan membuatnya sia-sia hanya karena aku kembali menangis.
Aku tak lagi selemah yang kau pikir.
Jika belum puas memaki dan mencibir,
Lakukanlah!
Aku tak apa!
Aku akan tetap hidup walau cibirmu terus menghujam hari-hariku.
Pagi ini,
Hari ini,
Detik ini,
Menit ini,
Kembali kutorehkan curahan hati
Agar diri tak lagi tersakiti dengan hanya memendam seorang diri.
Izinkan aku berbagi.
Agar tak lagi ada yang tersakiti.
Cukup aku! Jangan yang lain lagi.
Yogyakarta,
15 Maret 2017 | 10:08
Nai.Najiha
Tidak ada puisi hari ini
Cukup sajak-sajak prosa yang menemani.
Hari ini, aku datang dengan sebuah episode baru
Dari masa lalu.
Sebuah episode tentang aku.
Bukan dia atau kamu.
Biarkan aku mengisahkan perihal diri
Bukan lagi insan yang menempati hati.
Episode ini kutuliskan dari hati,
Agar pula sampai ke hati.
Cinta. . .
Untaian aksara ini akan menjadi saksi
Tentang aku yang rapuh oleh tatapan sinis.
Pula tentang aku yang jatuh oleh cibiran sadis.
Berulang kali aku coba bangkit,
Berulangkali pula tatapan dan cibiran itu,
Kembali membuatku meringis.
Aku tidak menangis, Cinta. . .
Sungguh, tidak!
Hati ini membeku, membatu dan terbungkam bisu.
Telaga air mata mengering tanpa memandang musim.
Dan aku bersyukur akan itu.
Setidaknya, aku tidak akan tampak lemah di pandang mata.
Cinta. . .
Hari ini hujan mengguyur kota.
Rinainya menari menciptakan melodi rasa.
Dan aku, berteduh di bawah langit senja
Tanpa peduli tetesan-tetesan yang membasahi raga pula jiwa.
Aku ingin pamit sejenak
Dari keramaian yang memandangku hina
Aku ingin pamit sejenak
Dari segala cibir yang membuatku pesimis.
Jujur. . .
Aku lelah Cinta.
Kini, kau boleh menganggapku lemah
Tapi satu pintaku, jangan pernah mengumbarnya di hadapan siapapun.
Cukup kau yang tahu.
Serta Dia Yang Maha Tahu.
Jangan lagi pandang sinis itu terlontar
Cukup mereka, Cinta!
Cukup mereka yang melempar tatap itu padaku.
Aku sudah tak lagi mampu
Memikul segala pandang sinis dan cibiran sadis.
Aku terlalu lelah, Cinta.
Aku rapuh, andai kau tahu.
Aku tak sekuat yang kau lihat.
Aku jatuh berkali-kali
Bangkit berkali-kali
Namun, segala pandang dan cibir itu acap kali kembali.
Sudahlah Cinta.
Jangan kau pikir terlalu dalam.
Biar aku saja yang memikirkannya.
Malam ini, aku hanya ingin berbagi padamu.
Pula menunjukkan padamu, bahwa kau sosok yang beruntung.
Tidak seperti aku yang terluntang-lantung.
Aku rapuh, Cinta. . .
Yogyakarta, 14 Maret 2017
Nai.Najiha
Khayalku melayang jauh,
Terhempas bebas kemudian jatuh
Imajiku memandang acuh
Pada kepingan-kepingan yang mulai meluruh.
Bait-bait sajak kukirimkan
Sebagai pelipur luka dan lara.
Di antara sebutir impian
Kau datang membawa cita.
Aku terjerat di Padang Sahara
Dehidrasi pula didustai prahara.
Lalu kau datang dengan jumawa
Membisikkan bait kata
Yang menghadirkan gelak tawa.
Namun, semua itu seolah palsu.
Tidak berlaku!
Nyatanya, aku masih di sini terpaku.
Dalam gelombang rindu
Yang kian menggebu
Membelenggu hati yang membisu
Sesakit inikah mengulang masa-masa itu?
Bernostalgia dalam harap semu
Berangan sebuah temu,
Tapi tak kunjung memperoleh restu?
Tolong, jangan siksa aku
Dengan segala kenang itu!
Tidakkah kau tahu?
Hati ini membatu karenamu.
Karena kenangan yang kau bawa bersamamu,
Tanpa mengizinkanku tuk menyentuhnya walau seujung kuku.
Masa-masa itu memang telah berlalu.
Tapi salahkah aku,
Jika kembali memutarnya dalam torehan baku?
Aku hanya ingin mengabadikannya,
Dalam sajak-sajak bisu
Agar rindu yang menggebu
Tak lagi menganggu pula membelenggu
Agar sesak yang bersemayam di qalbu
Terkikis seiring waktu berlalu.
Aku rindu...
Yogyakarta, 13 Maret 2017
Nai.Najiha
Tentang gejolak yang tak kunjung mereda.
---------
Gejolak ini kian menggebu
Ketika bayangmu hadir dalam pigura bisu.
Lukis rupamu menawanku
Dari sudut-sudut yang mulai membeku.
.
Sosok yang lahir dari rahimmu?
Kemudian kau kenalkan abjad-abjad baku?
Iya. Aku. Ingatkah kamu?
.
Tapi kutahu kau tidak sengaja melakukannya.
Aku pula paham,
Bukan hanya aku seorang yang kau lahirkan.
.
Dan akan selalu begitu.
Bayangmu tak pernah semu
Dalam edaran pandangku.
.
Tanpa berjuluk angkuh.
Menjadi naungan bagi setiap insan
Yang dehidrasi akan pengetahuan,
Jua pengalaman.
.
Rumah yang selalu kurindukan.
Berjuta kisah kau torehkan dalam kehidupan
Yang dahulu kuduga tanpa harapan
Pula impian.
.
Dengan nasehat yang menggugah jiwa
Kau tuntun aku ke jalan-Nya
Dengan langkah tertatih yang tak kunjung reda.
.
Hingga semua harapku kembali terajut
Untukmu, dayahku. . .
Tempat awal mimpi-mimpiku melambung
Di antara liukan gunung-gunung
Yang berpose agung.
.
Darul Ihsan, tempat rinduku bersemayam syahdu. . .
.
Nai.Najiha
Selamat sore, senja.
Hari ini kita kembali bersua
Berbagi kisah tentang dia yang kau bawa
Yang hadir tanpa sapa
Apalagi tawa.
Kau tidak bosan, bukan?
Ketika aku terus saja menanyakan
Perihal ia yang kemarin hadir dengan sopan?
Perihal ia, sebuah rasa yang tak bertuan.
Iya! Dia!
Rindu.
Aku menyebutnya begitu.
Kau tahu itu.
Tapi hari ini kau tampak kesepian.
Kemana dia yang kemarin melempar seulas senyuman?
Dia. . . Dia baik-baik saja bukan?
Jawab aku senja!
Aku gelisah.
Aku marah.
Aku marah pada diriku
Karena dengan kurang ajarnya ingin menghapus semua tentangnya, dahulu. . .
Dulu senja, bukan sekarang.
Aku telah menerima hadirnya
Namun kenapa ia seolah membentang jarak?
Apa aku berbuat salah?
Apa aku berbuat salah, senja?
Jawab aku senja!
Jawab!
Hah!
Sudahlah!
Aku terlalu lelah.
Jika kau bertemu dengannya,
Tolong sampaikan bahwa aku merindukannya.
Sangat.
Aku sangat merindukannya.
Merindukan rindu.
Dan maaf karena aku telah menghardikmu, senja.
Walau bagaimanapun,
Bagiku,
Kau akan tetap menjadi anugrah terindah dari-Nya,
Yogyakarta, 11 Maret 2017
Nai.Najiha
Bersua tanpa mengiba
Melukis tawa jenaka
Di bibir setiap jiwa
Pagiku, bahagia.
Di beranda rumah sosoknya tiba
Melontarkan seulas senyuman
Tanpa lambaian tangan.
Ah! Rasanya hampa.
Di sini, di beranda rumah,
Aku menanti lambaiannya
Pula tegur sapa
Yang terucap dari kedua bibir indahnya.
Namun, itu hanya angan semata
Di pagi cerah yang tak lagi ceria,
Bagiku.
Semuanya menjadi pilu.
Secangkir kopi tersuguh nikmat di depan mata
Menemani penantianku yang tak berujung temu
Sepiring mie Aceh menggugah selera di atas meja
Menanti hadirmu yang hanya angan semu.
Mungkin hanya mereka yang setia dalam menemani hari
Bukan dia sosok yang dahulu kunanti
Ah! Memang.
Secangkir kopi dan sepiring mie Aceh lebih terkenang
dibanding sosoknya yang hanya berupa bayang.
Yogyakarta, 17 Maret 2017
Nai.Najiha
Hai senja!
Kini aku kembali menyapamu,
Bukan hanya hari ini atau sehari yang lalu,
Namun untuk hari-hari esok, akan terus begitu.
Hari ini,
Kau kembali hadir bersamanya.
Iya! Dia!
Sosok yang kemarin datang bersua
Tanpa salam atau sapa.
Tapi kali ini,
Dia hadir dengan sopan
Menyapa hangat dengan seulas senyuman
Melempar pandang pula lambaian tangan.
Hari ini, dia tampak lebih menyenangkan.
Setidaknya, itu yang kurasakan.
Senja,
Apakah kau telah merayunya?
Hingga ia berkenan melepas tawa?
Bersamaku? Sosok yang telah menghapusnya.
Oh tidak, maksudku, mencoba menghapusnya.
Jika benar itu adanya,
Kembali aku berterima kasih padamu, senja.
Kau hebat! Mengenalmu adalah sebuah anugrah terindah dari-Nya.
Untuk kedua kalinya kuucapkan,
Terima kasih senja. . .
Yogyakarta, 10 Maret 2017
Nai.Najiha
Senja,
Apa kau tahu?
Ada sebuah rasa yang keliru
Antara aku dan kamu,
Ketika kau menawarkanku temu.
Sebuah rasa yang membelenggu dan tak tahu diri.
Sebuah rasa yang acap kali mengeja hati
Sebuah rasa yang mengusik hari-hari.
Sebuah rasa yang dahulu pergi
Dan kini ia hadir kembali.
Ia datang tanpa permisi
Menyapa apa lagi.
Hadirnya seketika
Menghempas segala asa.
Senja,
Tahukah kamu rasa apa itu?
Rasa yang menyiksaku
Kemudian perlahan membunuhku?
Rasa itu kusebut rindu.
Begitupulakah kau menyebutnya?
Iya!
Kali ini aku kembali menorehkan tentangnya
Karena kamu hadir membawa serta dirinya.
Marah? Kecewa?
Tentu saja tidak.
Aku berterima kasih kepadamu
Karena menghadirkan kembali sosoknya
Sosok yang selama ini kuhapus
Namun tak ingin kulupakan.
Terima kasih senja.
Yogyakarta, 09 Maret 2017
Nai.Najiha
Mendung, hujan, dan pelangi
Begitu katanya.
Ibarat kesedihan, menangis, kemudian hadir kebahagiaan.
Tapi, sepertinya ada yang salah dengan peng-analogi-an pelangi sebagai kebahagiaan.
Pelangi yang kata mereka penuh warna,
Tidak berlaku bagi pelangi dalam kehidupanku.
Aku lelah bersembunyi di balik indahnya pelangi.
Aku khawatir, pelangi itu mencibirku,
Karena pelangi di hidupku kelabu.
Ya!
Pelangiku kelabu.
Kata siapa?
Kataku.
Hah..! Tidakkah kau mendengar itu dariku?
Maaf jika aku terkesan membentakmu.
Aku katakan sekali lagi padamu.
Bahwa pelangiku kelabu.
Dan bahagiaku semu.
Itu menurutku.
Cukup ya!
Sekarang kau tahu, kan?
Ini jawaban dari pertanyaanmu kala itu.
Semoga pelangimu selalu berwarna.
Tidak seperti pelangiku yang kelabu.
.
Yogyakarta. January, 08th 2017
#nai_words
Semburat jingga membentang angkuh di penghujung ufuk.
Melukis horizon dalam balutan sendu nan syahdu.
Aku termenung, melepas pandang dengan fikir yang melayang.
Menanti dalam kesunyian bersama melodi yang berkicauan.
Sungguh, bukan ini yang kuinginkan. Menanti dalam ketidakpastian.
Tentu! Bukan!
Karena penantian ini begitu menyiksa.
Mengukungku, menjeratku, dan mengelabuiku dengan segala pesonanya.
Senja... kepadamu aku kembali mengeluh.
Bukan karena aku membencimu. Bukan!
Namun, karena engkau terlalu sempurna untuk menjadi seorang pendusta. Pesonamu melunturkan segala kecewaku karena penantian yang tak berujung.
Senja... ku mohon.
Hentikan semuanya sampai di sini.
Biarkan aku pergi membawa kecewa yang tak sanggup lagi kupikul.
Cukup! Aku sudah terlalu lelah dengan semua kebohongan dan kepura-puraan ini.
Namun, satu pintaku padamu, senja
Jangan pernah tinggalkan langit. Karena ku tahu.. dia hampa tanpamu.
Yogyakarta. January, 3rd 2017
Langit.
Hari ini aku ingin mengungkapkan sesuatu yang mungkin akan menyinggungmu, sehingga membuat hatimu terluka.
Sesuatu yang sudah sejak lama aku pendam dalam diam.
Sesuatu yang selalu menjadi kekhawatiran yang tak berkesudahan.
Langit, bolehkah aku?
Maaf, jika aku terkesan memaksakan kehendak.
Tapi, ketahuilah wahai langit!
Sungguh, apa yang akan aku ungkapkan kelak bukan sesuatu yang sia-sia.
Ya! Setidaknya bukan sesuatu yang sia-sia bagiku.
Langit.. aku lelah!
Hidup ini penuh dengan sandiwara belaka.
Kebahagiaan yang kumiliki, hanya semu semata.
Aku cemburu. Cemburu padamu, wahai langit!
Engkau mempunyai cara tersendiri untuk membahagiakan dirimu. Dan aku cemburu! Karena aku tak mampu sepertimu.
Langit.
Walau kadangkala mendung merenggut bahagiamu, engkau menghadirkan pelangi sebagai penawar dukamu.
Berbeda denganku.
Langit.
Bahagiamu sederhana.
Dan aku suka itu.
Sekali lagi,
Maaf, langit! Jika ungkapan hatiku ini menyinggungmu. Seolah-olah aku tahu semua tentangmu.
Satu hal yang harus selalu kau ingat, langit.
Bahwa bahagiamu itu istimewa.
Bahagiamu itu sederhana. Sesederhana wujudmu..~
.
Yogyakarta. January, 4th 2017

